Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

cara menyikapi khilafiyah perbedaan pendapat dan masalah khilafiyah fiqh dalam islam

cara-menyikapi-khilafiyah-perbedaan-pendapat-dan-masalah-khilafiyah-fiqh-dalam-islam
cara menyikapi khilafiyah perbedaan pendapat dan masalah khilafiyah fiqh dalam islam  cara-menyikapi-khilafiyah-perbedaan-pendapat-dan-masalah-khilafiyah-fiqh-dalam-islam

Manusia diciptakan Allah SWT berbeda-beda baik dari segi fisik maupun pola pikir masing-masing individu secara intelektual. Tidak ada di dunia ini dua orang yang betul-betul persis sama, apalagi kalau sudah menyangkut yang namanya pendapat maupun pikiran.

Pengertian Khilafiyyah

Khilaf dan ikhtilaf secara harfiyah berarti perbedaan, perselisihan, dan pertentangan. Khilafiyah berarti masalah-masalah fiqh yang diperselisihkan, dipertentangkan, diperdebatkan status hukumnya di kalangan ulama atau fuqaha` akibat dari pemahaman dan penafsiran mereka

Masalah khilafiyyah sudah ada dan muncul di zaman sahabat, jadi bukan barang baru dan aneh. Khilafiyyah itu dalam perkembangannya semakin banyak dan meluas di kalangan umat Islam pada masa-masa berikutnya hingga zaman sekarang. Khilafiyyah terjadi hampir dalam semua bidang, baik dalam soal politik, aqidah, tashawwuf, kalam, dan juga dalam lapangan fiqh.

Di dunia fiqh terdapat sebuah ungkapan, barang siapa yang tidak mengenal khilaf maka hakikatnya ia belum mengerti fiqh. Ini adalah sebuah ungkapan yang tidak berlebihan dan cukup realistis. Jangankan antar madzab, sering terjadi dalam satu madzab terdapat dua atau lebih pendapat ulama tentang hukum suatu permasalahan. Sehingga di belakangnya ada ulama yang merasa terpanggil untuk menentukan mana yang lebih kuat diantara pendapat-pendapat itu. Kelompok ulama ini lazim disebut sebagai mujtahid tarjih.

Untuk itu sikap-sikap maupun pendirian berikut mesti diwaspadai karena hanya akan memperkeruh dan memperuncing perbedaan yang pada ujungnya dapat menyeret kepada permusuhan antar umat Islam yang berbeda pendapat

Sikap dan anggapan merasa paling benar sendiri. Sikap ini akan mendorong orang untuk menyalahkan atau terkadang menyesatkan kelompok lain yang tidak sama pemahaman dengan kelompoknya.

 Jika hanya merasa benar saja itu masih bisa dipahami, namun merasa paling benar mestinya perlu dihindari. Ulama salaf sering berkomentar dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan menyatakan, “ Pendapat madzab kami benar namun mengandung kemungkinan salah, pendapat di luar madzab kami salah namun masih mengandung kemungkinan benar”.

Jadi mereka terbiasa tidak  memonopoli kebenaran dalam hal  ini bagi kelompoknya saja, namun ‘membagikannya’ juga pada kelompok lain.

Tidak mau berdialog (tabayyun) atau klarifikasi jika ada perbedaan pendapat dengan kelompok lain. Dialog, musyawarah, diskusi, klarifikasi  merupakan cara-cara yang bijak yang dianjurkan agama guna melakukan tabayun atau klarifikasi serta menciptakan mutual understanding.

Sebaliknya tanpa dialog orang mudah su`udhan, memberikan label-label negatif, mengembangkan sikap curiga dan penghakiman sepihak. Tentu hal ini akan meperuncing dan memperkeruh keadaan. Betapa banyaknya perbedaan pendapat namun setelah keduanya bertemu dan dijelaskan duduk satu meja ternyata hanya sebuah kesalahpahaman, atau hanya berbeda pada hal-hal yang tidak substansial dan sebagainya.

Mencukupkan diri dengan satu aliran, ustadz, kitab, madzab serta tidak mau mengakaji aliran maupun kitab karangan di luar madzab yang dianutnya. Akibatnya ia sering sempit dan picik pikiran ( narrow minded view) dalam menilai kelompok lain, padahal kelompok lain itu yang berdiri di atas kebenaran atau sekurang-kurangnya sama-sama dapat dibenarkan.

Misalnya dalam ilmu qira`at terdapat 7 versi bacaan yang sama-sama diakui sebagai qira`at mutawatir yang dibenarkan untuk diamalkan.

 Namun dalam sebuah kejadian ada seorang imam masjid disalahkan jamaahnya karena ada bacaannya yang didengar janggal oleh jamaah, karena kebetulan imamnya membaca dengan qira`at lain. Seumpama bacaan maliki yaumiddin, ma boleh dibaca pendek ataupun panjang. Namun karena si makmum hanya tahu satu jenis bacaan akibatnya ia menyalahkan bacaan imamnya.


Khilafiyyah adalah Rahmat

Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ merupakan rahmat, dan orang yang terlibat di dalam perbedaan ini termasuk ahl rahmat. Demikian ditegaskan syekh Yusuf al-Qardhawi.

Sebuah hadis yang cukup terkenal yang dijumpai dalam Kitab al-Jami’ ash-Shaghir karya as-Suyuthi menyatakan, “ Ikhtilaf umatku adalah merupakan sebuah rahmat”( HR Baihaqi).

Syekh Yusuf al-Qardhawi mengomentari hadis ini dengan mengatakan bahwa hadis ini cukup masyhur di tengah-tengah masyarakat, namun tidak memiliki sanad yang jelas, akan tetapi dari segi matan beliau mensahihkannya.

Perbedaan pendapat di kalangan umatku (seharusnya menjadi) rahmat, karena dalam kenyataan tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan pendapat tak selamanya atau tidak selalu mendatangkan rahmat. Perbedaan pendapat juga sering menjadi laknat, adzab, perpecahan dan permusuhan, lebih-lebih perbedaan pendapat di bidang politik.



Agar perbedaan yang ada menjadi rahmat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dikembangkan terutama oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perbedaan itu yakni sikap-sikap sebagai berikut :

1. Menghindari  bahwa kebenaran hanya ada pada kelompoknya sendiri ) sepihak.
Merasa paling benar sendiri seharusnya dihindari dalam soal-soal khilafiyah, paling tinggi cukup kita merasa benar, tidak perlu sampai merasa paling benar.

Memahami hakikat perbedaan atau khilafiyyah dengan baik serta mencontoh adab dan etika yang dicontohkan oleh para imam dalam menghadapi perbedaan pendapat itu. Juga perlu mempelajari sejarah kemunculan madzab-madzab, situasi historis dan setting social yang melingkupi madzab atau munculnya sebuah pemikiran.

Dengan mengetahui dan memahami hal-hal tersebut di atas, orang akan lebih arif dan bijak dalam menyikapi adanya perbedaan pendapat itu.

2. Membiasakan mempelajari suatu masalah dari berbagai aliran atau madzab  maupun sudut pandang yang dipakai. Juga mempelajari bagaimana kerangka berpikir dan model pendekatan yang mereka gunakan mengapa mereka sampai pada pendirian seperti itu. Model kajian fiqh secara perbandingan tentu memiliki kontribusi yang besar untuk ini.

3. Bersikap terbuka dan toleran serta tidak fanatik dan ekslusif.
Siap dialog dan diskusi serta tidak menutup diri. Biasanya aliran atau kelompok yang dicap ‘sesat’ salah satu cirinya adalah bersikap ekslusif dalam arti menutup diri dan tidak terbuka ke dunia luar, fanatik, tidak toleran dan mudah menyalahkan/menyesatkan/mengkafirkan kelompok lain.

Imam Ali diriwayatkan pernah berkata, “ Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah”. Juga beliau diriwayatkan pernah berpesan,     “ Tetaplah kalian berada di golongan tengah-tengah, di mana kelompok yang di depan akan mundur dan yang tertinggal akan menyusul”.

Khilafiyah adalah Tsarwah (kekayaan)

Adanya berbagai macam madzab, aliran, maupun fatwa yang berbeda-beda berikut perangkat metodologi yang digunakan tak pelak lagi merupakan sebuah khazanah keilmuan yang tidak ternilai harganya. Berpuluh dan bahkan beratus kitab fiqh dari berbagai madzab dan masa yang telah ditulis para ulama dalam rangka menjelaskan hukum agama yang tebal-tebal dan besar sangat kaya dengan ilmu dan perbedaan.

Umat yang hidup belakangan dapat menjumpai dan sekaligus menikmati peninggalan itu dengan menelaah, mengkaji, membanding untuk mengambil mana yang lebih kuat dalilnya serta yang lebih mendatangkan maslahat orang banyak. Kita patut bersyukur dan bangga dengan peninggalan yang amat melimpah ini, walau kita tidak boleh terjebak pada pengkultusan dan penyucian pendapat-pendapat dalam kitab tersebut.

Koleksi kitab hukum yang ditinggalkan para ulama di masa lalu teramat kaya dan luas. Kita patut bersyukur, karena sebagian besar kitab-kitab itu masih dapat dinikmati dan dikaji oleh umat Islam zaman sekarang. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya, terutama mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi agama Islam dan para santri di ma’had-ma’had Ali.


Adab menghadapi khilafiyyah

Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam fiqh al-Ikhtilaf menjelaskan landasan moral yang perlu diperhatikan dalam mengahadapi perbedaan pendapat adalah :

1.Ikhlas karena Allah dan menghindari hawa nafsu.
2.Meninggalkan fanatisme, baik terhadap tokoh, madzab maupun golongan.
3.Berprasangka baik dengan orang lain.
4.Tidak memvonis dan mencela.
5.Menjauhi debat kusir dan pertengkaran
6.Dialog dengan cara-cara yang terbaik.

penyikapan dan kesepakatan sebagai berikut:

1. kita semua sepakat menerima, mengakui dan mentolerir adanya perbedaan pendapat para imam dan ulama itu, sebagai hal yang normal dan wajar, karena ia merupakan buah alami dan konsekuensi logis dari ijtihad mereka. Serta sepakat menyikapi seluruh madzhab ulama Ahlussaunnah Waljamaah sebagai pilihan-pilihan yang secara umum ditolerir bagi siapapun untuk memilih madzhab apapun diantaranya.

2. kita sepakat untuk selalu berusaha melakukan pemilihan diantara pendapat-pendapat dan madzhab-madzhab yang mu’tabar (diakui) itu secara bertanggung jawab, sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.

Dimana bagi ulama mujtahid, andai ada, pilihan harus dilakukan berdasarkan hasil ijtihadnya. Sedangkan bagi kalangan penuntut ilmu syar’i, yang telah mampu memahami dalil dan mendalami istidlal para ulama, pilihan didapat melalui jalan ber-ittiba’, yakni dengan mengikuti madzhab imam mujtahid disertai pemahaman akan dalilnya, dan atau dengan melakukan pengkajian serta perbandingan untuk menentukan pendapat yang rajih (kuat) menurutnya.

Adapun bagi kaum muslimin kebanyakan yang awam sama sekali, maka batas kemampuan mereka hanyalah ber-taqlid, yakni mengikuti ulama rujukan terpercaya yang diakui kapasitas dan kredibilitasnya, meskipun tanpa harus tahu dalilnya dan paham istidlal-nya.

Yang penting dalam ber-taqlid ini, minimal ada dua syarat utamanya, yaitu: bahwa ulama yang ditaqlidi dan diikuti adalah ulama yang tepat, dan bahwa taqlid dilakukan secara tulus dan ikhlas, yakni tidak dalam rangka memperturutkan hawa nafsu, misalnya dengan sekedar tatabbu’ur-rukhash (nyari-nyari yang serba ringan dan nyaman saja).

3. kita sepakat melihat dan menyikapi pendapat atau madzhab yang akhirnya dipilih dan diikuti oleh masing-masing diantara kita, sesuai cara dan pola yang telah disebutkan diatas, sebagai sebuah pilihan dan bukan sebagai sebuah keyakinan! Oleh karenanya, kita sepakat untuk tidak menunjukkan sikap mutlak-mutlakan terhadap pendapat yang kita pilih, begitu pula terhadap pendapat serta madzhab yang lain. Juga tidak menyikapi masalah khilafiyah ijtihadiyah ini dengan pola pendekatan haq-batil, atau sunnah-bid’ah, atau lurus-sesat, atau wala’ (cinta) dan bara’ (benci)! Namun selalu mengedepankan dan menonjolkan sikap toleransi sesuai tuntutan kebutuhan dan kemaslahatan, di bawah naungan prinsip ukhuwah islamiyah, dan berlandaskan semangat persatuan dan penyatuan ummat.

4. kita semua sepakat untuk tetap dan senantiasa mengutamakan, mengedepankan dan memprioritaskan masalah-masalah ushul (prinsip) yang telah disepakati atas masalah-masalah furu’ (non prinsip) yang diperselisihkan. Atau dengan kata lain, kita wajib selalu mengutamakan dan mendahulukan masalah-masalah ijma’ atas masalah-masalah khilafiyah. Sehingga jangan sampai perhatian dan kesibukan kita yang besar terhadap masalah-masalah khilafiyah, mengalahkan dan mengorbankan perhatian serta kesibukan kita terhadap masalah-masalah pokok yang disepakati.

5. kita sepakat bahwa, untuk praktek pribadi, dan dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat personal individual, masing-masing kita berhak mengikuti dan memgamalkan pendapat atau madzhab yang rajih (kuat) menurut pilihannya.

Meskipun sangat afdhal pula jika ia memilih sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath) dalam rangka menghindari ikhtilaf (perbedaan pendapat), sesuai dengan kaidah ”al-khuruj minal khilaf mustahabb” (keluar dan lepas dari wilayah khilafiyah adalah sangat dianjurkan). Sementara itu terhadap orang lain dan atau dalam hal-hal khilafiyah yang terkait dengan kemaslahatan bersama, kita semua sepakat untuk mengambil sikap melonggarkan dan bertoleransi (tausi’ah & tasamuh).

Atau dengan kata lain, jika kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat personal individual, adalah melaksanakan yang rajih menurut pilihan kita masing-masing. Maka kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat kebersamaan, kejamaahan, kemasyarakatan, dan keummatan, adalah dengan mengedepankan sikap toleransi dan bahkan kompromi.

Termasuk sampai pada tingkat kesiapan untuk mengikuti dan melaksanakan pendapat atau madzhab lain yang menurut kita marjuh (lemah) sekalipun, jika memang ada kemaslahatan untuk itu.

6. kita semua sepakat untuk menjadikan masalah-masalah ushul (prinsip) yang disepakati, yakni masalah-masalah ijma’ – dan bukan masalah-masalah furu’ ijtihadiyah khilafiyah – sebagai standar komitmen dan ukuran keistiqamahan seorang muslim.

Jadi tidak dibenarkan misalnya kita menilai seseorang itu istiqamah atau tidak dan komit atau tidak, berdasarkan standar masalah-masalah khilafiyah. Sehingga misalnya akan dinilai istiqamah dan komit jika ia mengikuti madzhab atau pendapat tertentu, sementara akan dinilai tidak istiqamah dan tidak komit jika menganut madzhab atau pendapat yang lain.

Bahkan yang benar adalah bahwa, siapapun yang menjalankan ajaran Islam sesuai standar batasan prinsip, maka ia adalah orang Islam yang istiqamah dan komit, apapun madzhab atau pendapat di antara madzhab-madzhab atau pendapat-pendapat ulama mu’tabar, yang diikuti dan dianutnya.

7. kita harus sepakat untuk senantiasa menjaga agar ikhtilaf (perbedaan) diantara kita dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah, tetap berada di wilayah wacana pemikiran dan wawasan keilmuan serta pemahaman saja, dan tidak masuk atau berpindah ke wilayah hati. Agar perbedaan kita itu tetap sebagai perbedaan keragaman (ikhtilafut-tanawwu’) yang ditolerir dan bahkan indah, dan tidak berubah menjadi perselisihan perpecahan (ikhtilafut-tafarruq) yang tercela, dan yang akan merusak ukhuwah serta melemahkan sikap saling tsiqoh (percaya) di antara sesama kaum mukminin.

8. kita semua sepakat untuk menyikapi orang lain, kelompok lain atau penganut nadzhab lain, dalam konteks khilafiyah dimaksud, sesuai dan berdasarkan kaidah penyikapan berikut ini: Perlakukan dan sikapilah orang lain, kelompok lain dan penganut madzhab lain sebagaimana engkau, kelompok dan madzhabmu ingin diperlakukan dan disikapi!

Serta janganlah memperlakukan dan menyikapi orang lain, kelompok lain dan pengikut madzhab lain dengan perlakuan dan penyikapan yang tidak engkau inginkan dan tidak engkau sukai untuk dirimu, kelompokmu atau madzhabmu! Dan ini tidak lain adalah salah satu bentuk penerapan terhadap makna dan kandungan hadits terkenal (yang artinya): "Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sampai ia menyukai untuk saudaranya apa-apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri" (HR. Muttafaq 'alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

9.kita semua harus sepakat untuk menilai, menyikapi dan memperlakukan praktik penganut, pengikut atau pemilih madzhab lain, berdasarkan sudut pandang madzhab yang bersangkutan, dan bukan berdasarkan sudut pandang madzhab kita, yang tentu saja berbeda dan bahkan bertentangan dengannya.

Karena hanya dengan prinsip dan cara pandang seperti inilah, kita bisa memiliki sikap toleransi dan bahkan kompromi dalam masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah

Dan sekaligus hanya prinsip dan cara pandang ini pulalah yang bisa menjelaskan dan menanfsirkan sikap toleransi dan kompromi para ulama salaf dalam hal-hal khilafiyah ijtihadiyah, yang bahkan sampai pada tingkat kesiapan mereka dalam kondisi-kondisi tertentu

Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebagian dari ciri orang atau golongan yang selamat dalam beragama kalau mereka bersikap :

1) Tawassuth, yakni mengambil jalan tengah dari dua kutub pemikiran atau sikap yang ekstrim,
2) Tawazun, yakni sikap berimbang dalam banyak hal, seperti imbang anatara dunia dan akhirat, imbang antara jasmani dan ruhani dsb.
3) I’tidal, yakni bersikap adil dan lurus dalam menghadapi suatu hal

Sering terjadi di kalangan oraganisasi kegamaan tertentu. Mereka mengatakan kepada jamaahnya bahwa satu-satunya kelompok yang selamat dan berhak masuk surga adalah kelompoknya sendiri, yang lain salah dan sesat serta akan masuk neraka.

Padahal sudah terang bahwa surga seluas langit dan bumi, kalau hanya duhuni kelompok itu saja yang Cuma sedikit pengikutnya, bukankah surga menjadi ‘mubadzir’?. Tidak hanya itu kelompok yang lain kadang dikatakan sesat, ahli bid’ah, ahli neraka dan kadang-kadang menganggapnya telah kafir.

Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menyikapi perbedaan pendapat terhadap masalah khilafiyah dalam islam. Semoga kita bisa saling menghargai khilafiyah dalam fiqh ini dan jadikan perbedaan ini menjadi rahmat bukan perselisihan dan pertengkaran.


related post