Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ciri-Ciri Orang yang bangkrut muflis di akhirat, Siapa Orang yang bangkrut di hari kiamat ?

Ciri-Ciri-Orang-yang-bangkrut-muflis-di-akhirat-Siapa-yang-bangkrut-di-hari-kiamat
Ciri-Ciri Orang yang bangkrut muflis di akhirat, Siapa Orang yang bangkrut di hari kiamat ?

Muflis dari akar kata aflasa yuflisu yang didefinisikan dengan khasira tijaaratahu yakni rugi perniagaannya atau bisnisnya. Maka muflis yang berbentuk isim fa’il bermakna orang yang rugi bisnisnya atau bangkrut. Tetapi dalam definisi hadits di atas sebagaimana jawaban para shahabat yaitu man laa dirhama lahu wala mataa’a atau orang yang tidak memiliki dirham (mata uang) dan harta benda lainnya. Maka Rasulullah memberikan penjelasan tentang hakekat muflis itu bagi kehidupan umat manusia ini.

Tidak ada seorangpun dalam hidup ini yang ingin bangkrut. Dalam setiap aktifitas yang dilakukannya pasti yang ada dibenaknya adalah keuntungan dan keuntungan. Bahkan ada pula yang berprinsip dengan modal seminim-minimnya tapi dapat untung yang sebesar-besarnya. Ada pula yang cukup ingin untung kecil-kecilan tapi berlangsung secara terus-menerus atau lumintu (Bahasa jawa). Maka dapat dipastikan bahwa semuanya ingin mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya

Di zaman modern saat ini, dengan adanya sosial media dan internet, seseorang dengan mudah berbicara dan menyampaikan pendapatnya. Di sosial media lebih mudah menyampaikan aspirasi dan pendapat. Akan tetapi sosial media ada juga sisi negatifnya, yaitu setiap orang bebas berbicara negatif, mencaci dan mencela. Lebih bebas daripada di dunia nyata karena ia bisa sembunyi di balik akun sosial media yang ia punya, bisa lebih berani karena tersembunyi dan bisa lebih lari dari tanggung jawab.

Sebagai seorang mukmin, tentu sangat tidak layak berbicara kasar, mencela dan melaknat kapanpun dam di mana pun, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻌَّﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﻄَّﻌَّﺎﻥِ، ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻔَﺎﺣِﺶِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﺒَﺬِﻱﺀِ

“Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor” (HR. Ahmad 1/416; shahih).

Bangkrut Akibat Lisan yang Buruk di Sosial Media

Hendaknya kita berhati-hati menjaga lisan kita di dunia nyata dan menjaga tulisan serta komentar kita di dunia maya. Karena tulisan ini kedudukannya sama dengan ucapan lisan. Sebagaimana kaidah:

Ketika lisan suka mencaci, mencela, melaknat, ghibah dan berkata-kata kotor kepada orang lain, ini sama saja kita akan “bagi-bagi pahala gratis” kepada mereka kemudian kita akan bangkrut. Mengapa demikian? Karena dengan lisan dan tulisan kita, mereka yang kita cela dan caci-maki adalah pihak yang kita dzalimi. Jika kita tidak meminta maaf di dunia, maka urusan akan berlanjut di akhirat.

Di akhirat kita tidak bisa meminta maaf begitu saja, akan tetapi ada kompensasinya. Kompenasi tersebur bukan uang ataupun harta. Karena ini sudah tidak bermanfaat di hari kiamat.


 قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُوْنَ مَاالْمُفْلِسُ؟ قَالُوا اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَدِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ هِ فَإِنْ فُنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَ مَا عَلَيْهِ أُخِذَا مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

Rasulullah bersabda: “Tahukah kamu, siapakah yang dinamakan muflis (orang yang bangkrut)?”. Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya dirham (uang) dan tidak pula punya harta benda”. Sabda Nabi: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku datang dihari kiamat membawa salat, puasa dan zakat. Dia datang pernah mencaci orang ini, menuduh (mencemarkan nama baik) orang ini, memakan (dengan tidak menurut jalan yang halal) akan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang ini. Maka kepada orang tempat dia bersalah itu diberikan pula amal baiknya. Dan kepada orang ini diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya telah habis sebelum hutangnya lunas, maka, diambil kesalahan orang itu tadi lalu dilemparkan kepadanya, sesudah itu dia dilemparkan ke neraka (HR. Muslim).

Dari hadis di atas, ada tiga model orang yang bangkrut sehingga amal baiknya tidak cukup untuk menutupi keburukannya:

1. Mencaci dan memfitnah

Mencaci apalagi memfitnah merupakan perbuatan yang sangat tercela, dalam kehidupan sekarang, banyak orang yang melakukannya sehingga terjadi banyak konflik antar satu orang dengan orang yang lain atau antar satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Pada zaman sekarang saling mencaci bahkan sudah digunakan untuk mencari nafkah seperti  pelawak dengan menghina teman lawaknya juga meskipun yang dihina tidak marah, tapi paling tidak hal itu telah membangun budaya saling menghina, apalagi yang dihina adalah ciptaan Allah SWT seperti menghina postur tubuh yang pendek, kulit yang hitam, gigi yang tonggos, bibir yang monyong, dll. Ini semua akan menjatuhkan martabat manusia dan rasa percaya dirinya menjadi rendah sehingga menjadi sesuatu yang sangat tidak dibenarkan.

Dalam konteks fitnah, hal yang sangat tragis adalah orang yang tidak bersalah dituduh sebagai orang yang bersalah, sedangkan orang yang bersalah seolah-olah menjadi tidak salah, namun hal ini sebenarnya sangat merugikan pelakunya,

Allah SWT berfirman: Hai orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan)n dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.

Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang yang beriman, jauhilah sebagian dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al Hujurat [49]:11-12).

2. Memakan harta orang lain

Mencari harta merupakan sesuatu yang diperintah oleh Allah SWT agar manusia bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, apalagi sampai bisa membantu orang lain. Keharusan mencari harta bahkan bila perlu dengan menjelajah berbagai penjuru bumi sebagaimana firman Allah SWT: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS. Al Mulk [67]:15).

Meskipun mencari harta merupakan sesuatu yang diperintah Allah SWT sehingga memiliki keutamaan yang sangat tinggi dan mulia, namun mencarinya tetap tidak boleh sampai menghalalkan segala cara, baik dengan menipu apalagi dengan mengambil harta orang lain dan yang sangat tragis adalah bila ia berusaha mendapatkan legalitas hukum untuk “menghalalkan” apa yang bukan miliknya itu, baik melalui notaris maupun hakim yang bisa disogok, inilah yang oleh Rasul SAW dikelompokkan sebagai orang yang bangkrut, Allah berfirman: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantaramu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS. Al Baqarah [2]:188).

Setiap kita pasti tidak suka bila harta yang kita miliki apalagi hal itu dicari dengan susah payah, dimakan oleh orang lain dengan cara yang tidak benar, apalagi bila lembaga penegak hukum malah membenarkan sesuatu yang tidak benar itu. Bila itu tidak kita sukai, maka bagaimana mungkin kita justeru yang melakukan hal itu?. Karenanya sangat wajar bila orang seperti itu termasuk orang yang bangkrut dihadapan Allah sehingga ia menjadi orang yang sangat rugi.

3. Menganiaya dan membunuh

Sesama manusia sebenarnya kita ini bersaudara yang membuat kita harus saling menyayangi dan menghormati, bahkan saling melindungi bila ada pihak lain yang menganggunya. Karena itu jangan sampai seseorang menganiaya orang lain, apalagi sampai membunuhnya tanpa alasan yang bisa dibenarkan, Allah SWT berfirman: Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya (QS. An Nisa [4]:93).

Dalam kehidupan manusia, ternyata telah banyak orang yang menjadi bangkrut yang akan membuat mereka sangat menderita dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena kenyataan menunjukkan betapa banyak manusia yang menganiaya manusia yang lain dengan penganiayaan yang sangat kejam, bahkan tanpa sebab yang jelas dan betapa banyak manusia yang membunuh orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan sehingga nyawa manusia yang begitu berharga melayang begitu saja tanpa jelas pertanggungjawabannya di dunia ini.

Manakala manusia termasuk ke dalam kelompok orang yang bangkrut, maka nilai kebaikan yang ia lakukan di dunia, baik dalam konteks peribadatan kepada Allah SWT maupun dalam hubungannya dengan sesama manusia akan dijadikan sebagai penebus dosanya itu kepada orang yang dirugikannya, namun karena begitu besar dosanya itu, maka iapun harus menutupi dosanya itu dengan azab neraka jahannam yang tiada terkira pedihnya. Bila kita percaya tentang hal ini, maka pembuktiannya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang membuat kita bisa menderita di neraka jahannam sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosululloh SAW dalam hadis di atas.